SMSI, Bandar Lampung – Kota Bandar Lampung mencatatkan angka penyebaran HIV tertinggi di Provinsi Lampung sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, ibu kota provinsi ini mencatat sebanyak 119 kasus tertinggi dibanding kabupaten/kota lainnya.
Di bawah Bandar Lampung, Kabupaten Way Kanan menyusul dengan 101 kasus, disusul Pringsewu 100 kasus, Tulang Bawang 93 kasus, dan Kota Metro dengan 92 kasus. Sementara daerah lainnya seperti Tanggamus (83 kasus), Lampung Selatan (82), Lampung Tengah (81), hingga Lampung Utara (65) juga menunjukkan angka yang tidak sedikit.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi A. Temenggung, menjelaskan bahwa HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Ketika seseorang terinfeksi, kemampuan tubuh untuk melawan penyakit akan terus menurun.
“Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) adalah mereka yang telah terinfeksi HIV atau berada pada fase AIDS. Penularannya umumnya melalui hubungan seksual berisiko dan penggunaan narkoba suntik,” jelasnya.
Sebagai pusat aktivitas dan ibu kota provinsi, Bandar Lampung memiliki tingkat kepadatan dan mobilitas penduduk yang tinggi. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang berpotensi mempercepat penyebaran HIV, terutama jika tidak diimbangi dengan kesadaran masyarakat terhadap perilaku hidup sehat.
“Dinas Kesehatan pun tidak tinggal diam. Berbagai langkah pencegahan terus dilakukan, mulai dari sosialisasi, penyuluhan lewat puskesmas keliling, hingga imbauan kepada masyarakat untuk menghindari perilaku berisiko seperti berganti-ganti pasangan,” ungkapnya.
Di sisi lain, status Bandar Lampung sebagai kota tujuan wisata juga membawa tantangan tersendiri. Tingginya mobilitas dan pergaulan yang tidak terkontrol bisa menjadi celah penyebaran virus semakin luas.
Data menunjukkan, kelompok usia 25 hingga 49 tahun menjadi yang paling banyak terpapar, dengan persentase mencapai sekitar 64 persen. Ini menunjukkan bahwa usia produktif menjadi kelompok yang paling rentan.
“Yang perlu diwaspadai, HIV sering kali tidak menunjukkan gejala di awal. Banyak penderita tetap terlihat sehat dan beraktivitas normal, tanpa menyadari bahwa sistem kekebalan tubuhnya terus melemah. Kondisi ini kerap membuat penanganan menjadi terlambat,” jelasnya.
Angka-angka ini bukan sekadar data. Ini adalah peringatan nyata bahwa upaya pencegahan harus diperkuat. Edukasi, kesadaran, dan kepedulian bersama menjadi kunci untuk menekan penyebaran HIV.***







