SMSI, Bandar Lampung – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandar Lampung mencatat sebanyak 333 kasus baru HIV sepanjang Januari hingga Desember 2025. Temuan ini didapat dari hasil skrining besar-besaran yang menyasar puluhan ribu warga.
Kepala Dinkes Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Temenggung, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap 35.698 orang. Angka ini bahkan melampaui target dari Kementerian Kesehatan yang menetapkan skrining sebanyak 30.108 orang.
“Realisasi skrining kita mencapai sekitar 115 persen. Dari jumlah itu, 0,9 persen atau 333 orang dinyatakan positif HIV,” jelasnya.
Skrining ini tidak dilakukan secara acak, melainkan menyasar kelompok yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi. Di antaranya ibu hamil, penderita tuberkulosis (TBC), penderita infeksi menular seksual (IMS), wanita pekerja seks, lelaki seks dengan lelaki (LSL), waria, pengguna narkoba, hingga warga binaan lembaga pemasyarakatan.
Menariknya, ibu hamil menjadi kelompok terbanyak yang mengikuti tes HIV. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pencegahan penularan dari ibu ke bayi sejak dini.
Dinkes memastikan, seluruh warga yang dinyatakan positif langsung mendapatkan penanganan. Terapi antiretroviral (ARV) diberikan untuk menekan perkembangan virus, sehingga pasien tetap bisa hidup sehat dan produktif.
“ARV bukan untuk menyembuhkan total, tapi untuk mengendalikan virus agar tidak berkembang,” ujar Muhtadi.
Saat ini, layanan pengobatan dan pendampingan HIV sudah tersedia di 31 puskesmas di Kota Bandar Lampung. Selain itu, Dinkes juga menggandeng berbagai komunitas dan organisasi yang fokus pada isu HIV/AIDS.
Kolaborasi ini mencakup edukasi pencegahan, pendampingan kelompok berisiko, hingga penjangkauan langsung ke lokasi-lokasi dengan potensi penularan tinggi, seperti tempat hiburan malam.
Meski berbagai upaya sudah dilakukan, Dinkes menegaskan bahwa penanganan HIV/AIDS tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Peran masyarakat sangat penting, terutama dalam mengurangi stigma, meningkatkan kesadaran, dan mendorong lebih banyak orang untuk berani melakukan tes sejak dini.
Sebab, semakin cepat HIV terdeteksi, semakin besar peluang untuk mengendalikan penyebarannya dan menjaga kualitas hidup penderitanya.***







