SMSI, Bandar Lampung- Kondisi fisik UPT Puskesmas Pinang Jaya dan Puskesmas Pembantu (Pustu) Maruja di Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, menjadi sorotan. Fasilitas kesehatan yang semestinya memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat itu masih menghadapi sejumlah kerusakan bangunan.
Hasil pantauan di UPT Puskesmas Pinang Jaya menunjukkan sejumlah kusen pintu dan jendela kayu dalam kondisi lapuk serta mengelupas. Kerusakan juga terlihat pada bagian dinding yang semennya mulai terlepas di sejumlah titik.
Bangunan puskesmas tersebut disebut telah berdiri sejak era Orde Baru dan hingga kini belum mendapat perombakan secara menyeluruh.
Kondisi tak jauh berbeda terlihat di Pustu Maruja. Atap halaman bangunan tampak jebol, sementara beberapa jendela ditutup menggunakan tripleks. Bagian belakang gedung juga membutuhkan perbaikan, terutama pada struktur atap dan dinding yang mengalami kerusakan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung Muhtadi Arsyad Temenggung membenarkan bahwa Puskesmas Pinang Jaya telah masuk dalam usulan rehabilitasi.
Menurut dia, usulan tersebut sudah disampaikan kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Bandar Lampung sebagai perangkat daerah yang memiliki kewenangan dalam penyusunan anggaran pembangunan fisik.
“Ada beberapa puskesmas yang memang sudah kita usulkan, salah satunya Puskesmas Pinang Jaya. Usulan itu kita sampaikan ke Dinas Pekerjaan Umum, nanti dari PU yang akan menganggarkannya,” ujar Muhtadi .
Namun, hingga kini belum ada kepastian kapan rehabilitasi tersebut direalisasikan. Muhtadi juga belum dapat memastikan apakah anggaran perbaikan akan dimasukkan dalam APBD Perubahan 2026 atau APBD Murni 2027.
Ia menyebut pembahasan mengenai anggaran fisik berada di Dinas PU bersama Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung.
“Kalau itu saya tidak paham ya, karena PU yang menganggarkan. Tapi kita harapkan secepatnya dilakukan perbaikan,” katanya.
Di tengah kondisi bangunan yang membutuhkan pembenahan, Dinas Kesehatan memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan. Muhtadi meminta tenaga kesehatan tidak menjadikan keterbatasan fasilitas fisik sebagai alasan untuk menurunkan kualitas pelayanan.
Pelayanan, kata dia, tidak hanya dilakukan di dalam gedung puskesmas. Petugas juga diarahkan aktif mendatangi masyarakat melalui kunjungan rumah, terutama bagi warga yang tidak memungkinkan datang langsung ke fasilitas kesehatan.
Untuk kebutuhan rujukan, puskesmas juga menyiagakan ambulans.
“Petugas kesehatan tidak hanya memberikan pelayanan di dalam gedung, tetapi juga di luar gedung. Mereka harus turun melihat kondisi masyarakat, terutama bagi yang tidak bisa datang langsung ke puskesmas melalui kunjungan rumah,” ujar dia. ***







